Jumat, 07 Desember 2012

PENGANTAR FILSAFAT



A.       PENDAHULUAN
Istilah filsafat yang merupakan terjemahan dari philosophy (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Yunani philo (love of ) dan sophia (wisdom). Jadi secara etimologis filsafat artinya cinta atau gemar akan kebajikan (love of wisdom).
Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh-sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya.
Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu atau metode berfikir untuk memecahkan gejala-gejala alam dan masyarakat. Namun filsafat bukanlah suatu dogma atau suatu kepercayaan yang membuta. Filsafat mempersoalkan soal-soal: etika/moral, estetika/seni, sosial dan politik, epistemologi/tentang asal pengetahuan, ontologi/tentang manusia, dll.
Menetapkan suatu definisi nampaknya sulit untuk dilakukan. Mengapa? Persoalannya bukan terletak pada soal bagaimana untuk mengemukakan definisi itu, melainkan soal mengerti atau tidaknya orang menerima definisi tersebut. Ini adalah persoalan yang tidak bisa dianggap sepele. Demikian juga filsafat, sulit sekali untuk memberikan suatu batasan yang benar (pasti) tentang kata filsafat. Buktinya para filsuf selalu berbeda-beda dalam mendefinisikan filsafat.
Layaknya seperti ilmu pengetahuan, filsafat  juga mempunyai metode yang digunakan untuk memecahkan problema-problema filsafat. Selain itu filsafat juga mempunyai obyek dan sistematika/struktur. Tidak kalah pentingnya dengan cabang ilmu pengetahuan, filsafat juga mempunyai manfaat dalam mempelajarinya, dsb.
Menurut Phytagoras, hanya Tuhan mempunyai kebijaksanaan yang sesungguhnya. Tugas manusia di dunia adalah mencari kebijaksanaan dan mencintai pengetahuan. Itulah sebabnya, filsuf adalah pencari hikmat atau pecinta kebijaksanaan.
Istilah filsafat sebetulnya sudah ada dalam sastra Yunani pertama. Filsafat pada mulanya berarti memandang benda-benda di sekitar dengan penuh perhatian. Kemudian berarti merenung tentang benda-benda tadi. Untuk itu selanjutnya kami akan memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan apa itu filsafat.
B.   DEFINISI FILSAFAT MENURUT PARA FILSUF
Menurut Poejawijatna (1974:1) dalam buku Filsafat Umum karya Prof. Dr. Ahmad Tafsir, menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunani-nya ialah philoshophia.    Dalam bahasa Yunani, kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan Sophia; philo memiliki arti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin. Oleh karena itu, lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu.[1]
Hasbullah Bakrie dalam buku tersebut juga mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dijangkau akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai  kebenaran itu. Pengertian ini sangat sesuai dengan arti filsafat menurut Al-Farabi bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Jadi filsafat disini dapat dikatakan sebagai penyelidikan terhadap suatu objek, sehingga setelah penyelidikan tersebut dilaksanakann dapat memberikan  hasil sejauh mana akal manusia dapat menangkap kebenaran itu tersendiri.[2]
Menurut  Aristoteles, filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estestika. Dari pendapat inilah dapat diketahui bahwa filsafat tidak hanya membahas tentang ketuhanan saja (filsafat agama) tetapi filsafat juga membahas masalah-masalah yang terkait dengan kehidupan manusia  lainnya sehingga dapat menghilangkan pandangan negatif bahwa filsafat itu sesat.[3]
Sedangkan menurut Ibnu Rushd, dalam buku “Pengantar Filsafat Umumkarya Nurani Soyomukti “Filsafat itu hikmah yang merupakan pengetahuan otonom yang perlu ditimba oleh manusia, sebab ia dikaruniai oleh Allah akal”.[4]
Filsafat diwajibkan dalam Al-qur’an agar manusia dapat mengagumi karya Tuhan dalam persada dunia. Ini  mendukung pendapat dari plato bahwa filsafat tidak lain adalah pengetahuan tentang segala hal/ segala sesuatu yang ada. Oleh karena Ibnu Rushd adalah ilmuan Islam, maka Ibnu Rushd memandang filsafat pun dalam perspektif Islam sendiri.[5]

C.      OBJEK FILSAFAT[6]
Isi filsafat ditentukan oleh objek yang dipikirkan. Ada dua objek apa yang dipikirkan. Ada dua objek dalam filsafat diantaranya:
1         Objek Material
Objek material filsafat yaitu segala yang ada dan mungkin ada, jadi luas sekali dan tidak terbatas.
Objek materia antara filsafat dengan sains (ilmu pengetahuan) sama, yaitu sama-sama menyelidiki segala yang ada dan mungkin ada. Tapi ada dua hal yang membedakan diantaranya:
a.    Sains menyelidiki objek material yang empiris. Sedangkan filsafat menyelidiki bagian yang abstraknya.
b.   Ada objek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains seperti Tuhan, hari Akhir (hal-hal yang tidak empiris). Jadi objek material filsafat lebih luas daripada sains.

2       Objek Formal (sikap penyelidikan)
       Objek forma filsafat adalah penyelidikan yang mendalam atau ingin mengetahui bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
       Objek ini hanya dimiliki oleh filsafat saja. Sains tidak mempunyai objek forma. Karena objek sains hanya terbatas pada sesuatu yang bisa diselidiki secara ilmiah saja, dan jika tidak dapat diselidiki maka akan terhenti sampai disitu.
       Tetapi filsafat tidaklah demikian, filsafat akan terus bekerja hingga permasalahannya dapat ditemukan sampai akar-akarnya.

D. LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT[7]
       Filsafat diawali oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pikiran manusia sendiri. Hal ini karena bertanya merupakan tali pengikat antara manusia dan peristiwa, demikian dinyatakan oleh C.A Van Peursen. Setelah bertanya mereka akan melakukan refleksi yang akan mengawali langkah berfilsafat mereka. Kegiatan berfilsafat manusia sendiri diawali oleh rasa heran, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
1.      Rasa heran.
       Berfilsafat berarti bertanya-tanya disertai rasa heran dan kagum (dalam bahasa Yunani: thaumasia). Plato, misalnya, mengatakan bahwa filsafat berawal dengan dorongan untuk menyelidiki bintang-bintang, matahari dan langit yang kita pandang. Dari penyelidikan itulah muncul filsafat.
       Dalam sebuah bagian terkenal dialog Theatetos, Plato menampilkan Socrates yang menghubungkan filsafat dan rasa heran seperti dalam Simposium, Plato menempatkan filsafat di antara manusia dan para dewa. Utusan para dewa dikaitkan dengan rasa heran.
       Rasa heran itu malah dibarengi rasa pening. Mengapa? Karena peristiwa-peristiwa biasa merupakan belenggu yang harus dipatahkan dan dilewati guna mempertanyakan makna benda-benda. Rasa heran itulah yang mematahkan belenggu rasa biasa tersebut.
2.      Kesangsian.
       Filsafat juga bisa diawali dengan rasa sangsi. Manusia mengsangsikan apa yang dilihat inderanya. Ia bertanya jangan-jangan apa yang dilihat itu suatu tipuan. Dengan kata lain manusia menginginkan kepastian.
       Berdasarkan sikap skeptis inilah manusia didotong untuk menemukan jawaban yang pasti. Disini, kesangsian merupakan metode untuk mencapai kepastian dan kebenaran. Harus dicatat bahwa rasa tak pasti, bimbang, dan skeptis yang dimaksud disini bukan merupakan gangguan psikologis, tapi justru merupakan proses mental dalam mencapai kebenaran.
       Filsuf yang mengawali filsafat dengan sikap ragu-ragu diantaranya adalah Agustinus (354-430) dan Rene Descartes (1596-1650).
3.      Kesadaran akan keterbatasan.
       Manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari betapa kecil, lemah, dan tak berarti dirinya ditengah alam semesta yang mahaluas, kuat, dan dahsyat. Pengalamannya juga menunjukkan betapa manusia itu tak berdaya.

E. MANFAAT BELAJAR FILSAFAT[8]
       Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Filsafat Umum, Nurani Soyomukti menyatakan bahwa filsafat adalah landasan untuk mengembangkan pengetahuan yang sangat berguna bagi peradaban suatu masyarakat. Filsafat, pengetahuan dan cara berpikir berkaitan dengan adanya yang mendorong anggota-anggota masyarakat untuk melihat dunia dan mengembangkannya. Dengan demikian filsafat penuh dengan manfaat-manfaat yang menjadikannya penting bagi kehidupan manusia, diantaranya adalah:
1.        Memahami bagaimana filsafat yang benar dan mana yang salah, mana filsafat yang membawa kemajuan dan mana filsafat yang memundurkan masyarakat. Intinya, dengan mempelajari filsafat kita bisa tahu bagaimana masyarakat berkembang dan bagaimana pula filsafat mengiringi perkembangan itu.
2.        Filsafat membuat kita mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Filsafat membantu kita berpikir, dan dengan demikian kita akan dipandu untuk memahami dunia bersama misteri-misterinya, dunia seakan menjadi gamblang dengan permasalahan-permasalahannya. Ini akan membantu kita mudah menghadapi masalah, dan kadang juga membuat kita mudah mengembangkan pengetahuan dan menggapai keterampilan teknis.
3.        Menggapai kebijakan dan nilai.
Ini berkaitan dengan poin diatas. Nilai diperoleh dengan berpikir mendalam. Nilai itu penting untuk mengatur kehidupan sebab tanpa nilai kehidupan akan centang-perenang dan tanpa nilai manusia akan terombang-ambing tanpa panduan. Nilai yang baik pasti dihasilkan dari proses berpikir filosofis, sedangkan ketiadaaan nilai pasti lahir dari masyarakat yang telah kehilangan filsafat atau berpikir.
4.        Menggapai kebenaran.
Filsafat adalah jalan menggapai kebenaran karena proses berpikir mendalam itu pada dasarnya adalah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hal itu bisa terjadi, terhadap suatu kenyataaan
5.        Memahami diri sendiri dan masyarakatnya.
Menghilangkan egoisme, meningkatkan kesadaran kolektif (collective conscioiusness). Tentang manfaat filsafat sebagai panduan untuk memahami diri sendiri sudah penulis uraikan diatas.
6.        Filsafat untuk mengubah kehidupan.
Artinya, dengan filsafat orang akan terdorong untuk mengubah segala sesuatu yang ternyata setelah dipikir benar-benar bahwa masyarakat yang ditinggalinya telah jauh menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini, juga berarti bahwa filsafat dapat dipisahkan dari kerja (praktik) mengubah kehidupan.

F. CIRI-CIRI BERPIKIR FILSAFAT[9]
Ciri-ciri berpikir filsafat sudah tidak asing lagi bagi kita terutama sebagai pelajar, diantaranya filsafat ini lebih diidentikkan dengan ciri berpikir yang kritis dan mendalam. Namun, selain itu masih banyak ciri-ciri berpikir filsafat yang perlu kita fahami lebih dalam, yakni:
  1. Radikal
Berpikir sampai ke akar persoalan. Hal ini bisa dilakukan dengan bertanya terus menerus hingga mendapat jawaban yang lebih hakiki. Juga, menghubungkan satu konsep atau gagasan dengan yang lainnya, menanyakan “mengapa” dan mencari jawaban yang lebih baik dibanding dengan jawaban yang sudah tersedia pada pandangan pertama.

  1. Kritis
Tanggap terhadap persoalan yang berkembang dan yang diketahuinya atau bahkan mendatanginya. Artinya, orang tersebut akan mudah terrangsang dan memberikan respons terhadap persoalan-persoalan yang trejadi dalam lingkungannya.
Berpikir kritis ini akan mengombinasikan dan mengoordinasikan semua aspek kognitif yang dihasilkan oleh super-komputer biologis yang ada didalam kepala kita, seperti persepsi, emosi, intuisi, mode berpikir linear maupun non-linear dan juga penalaran induktif maupun deduktif.
Ada 3 aktifitas dasar yang terkandung dalam pemikiran kritis, demikian dinyatakan Vincent Ryan Ruggiero dalam bukunya yang berjudul “Beyond Feelings: A Guide to Critical Thinking”, ketiga tersebut adalah:
  1. Melakukan tindakan untuk mengumpulkan bukti-bukti dan yang paling utama adalah mendapatkannya dengan secara langsung.
  2. Menggunakan otak, bukan perasaan (berpikir logis)
  3. Skeptis, yaitu rasa ragu karena adanya kebutuhan atas bukti, dengan kata lain tidak percaya begitu saja sebelum menemukan bukti yang kuat.

  1. Konseptual dan Konsepsional
Konstruksi pemikiran filsafat berusaha untuk menyusun bagan yang konseptual, dalam arti bahwa konsepsi (rencana kerja) merupakan suatu hasil generalisasi serta abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses.

  1. Rasional
Berpikir dengan menggunakan akal, dalam hal ini filsafat dipahami dengan pemikiran-pemikiran yang masuk akal dan logis. Bagian-bagiannya berhubungan secara logis dan semua kesimpulannya didapat dari premis-premis.

  1. Reflektif
Mencerminkan pengalaman pribadi. Filsafat dihasilkan dari proses perenungan diri dengan dunia, mengevaluasi cara pandang diri dikaitkan dengan pandangan dan realitas baru yang dialami dan didapat.

  1. Koheren dan Konsisten (Runtut)
Bahwa suatu perenungan pemikiran filsafat berusaha untuk menyusun suatu bagan yang koheren. Koheren berarti runtut dari awal hingga akhirnya, sedangkan konsisten berarti tidak berubah-ubah pandangannya, tetap pada jalurnya.

  1. Komprehensif dan Sistematis
Komprehensif maksudnya adalah bahwa tak ada segala sesuatu yang berada diluar jangkauannya. Jika tidak demikian, filsafat akan dianggap berat sebelah dan tidak memadai. Dalam hal inilah, pikiran filsafat adalah suatu pemikiran yang sistematis karena menjelaskan keterkaitan antara gagasan yang saling mendukung dan menghasilkan penjelasan yang utuh tentang kehidupan.

  1. Universal (Global)
Bahwa filsafat berusaha memahami seluruh kenyataan dengan menyusun suatu pandangan dunia yang memberikan penjelasan tentang dunia dan semua hal yang ada didalamnya. Dengan kata lain ciri berpikir filsafat ini dalah berpikir secara menyeluruh/ universal/ global.

  1. Metodis
Pemikiran filsafat diperoleh dengan suatu metode atau cara agar didapatkan kebenaran yang akan membuat manusia mampu menilai hidup dan mengambil keputuan secara tepat serta berpandangan tidak parsial. Untuk berpikir secara benar, diperlukan metode yang benar sebagaimana dengan hukum filsafat.

G. CIRI-CIRI PERSOALAN FILSAFAT[10]
Sesuatu dikatakan sebagai persoalan filsafat karena mengandung lima ciri:
1.        Tidak menyangkut masalah fakta, artinya pertanyaan-pertanyaan filsafat tidak berhubungan dengan peristiwa-peristiwa faktual. Apa benar benar Gayus itu aktor mafia pajak, adalah bukan pertanyaan dan persoalan filsafat.
2.        Pertanyaan atau persoalan berhubungan dengan keputusan-keputusan tentang nilai. Dalam hal ini dinyatakan bahwa filsafat tidak memikirkan tentang fakta, melainkan memikirkan tentang kebijaksanaan (wisdom).
3.        Pertanyaan-pertanyaan filsafat bersifat kritis. Tugas filsafat menilai tentang asumsi-asumsi, menentukan asumsi dan batas-batas aplikasinya.
4.        Pertanyaan fisafat bersifat spekulatif, yakni melampaui batas-batas pengetahuan yang telah mapan. ‘apa yang disebut hakikat manusia? Pertanyan itu diajukan orang per orang. Jawaban yang telah mapan adalah “aku ya aku. Aku lahir tanggal sekian, sekarang telah berumur sekian tahun, Aku mahasiswa. Aku anak si fulan dan si fulanah. Aku sebagai perawat dst. Jawaban filosofis yang dikehendaki bersifat metafisis.
5.        Persoalan filsafat bersifat sinoptik atau holistik, maksudnya adalah cara berpikir filsafat bersifat menyeluruh (integral), menyatupadukan, menggeneralisasikan aspek benda-benda atau hal-hal tertentu – yang sedang dipertanyakan. Contoh pertanyaan filsafat yang menuntut jawaban cara berpikir menyeluruh ‘apa hakikat benda itu’? Jawabannya: ‘Hakikat benda adalah partikel’.
Maksud jawaban ini adalah semua yang dikatakan oleh manusia tentang benda, sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indra, adalah partikel, tidak menunjuk sesuatu yang kongkrit seperti batu, gedung, rumah, gunung, dan seterusnya.










DAFTAR PUSTAKA
·         Soyomukti, Nurani, 2011, Pengantar Filsafat Umum, Yogyakarta: Ar-Ruzmedia.
·         Tafsir, Ahmad, 2009, Pengantar Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
·         Salam, Burhanuddin, 2005, Pengantar Filsafat, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
·         http://elmasterquin.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html, diakses pada tanggal 28-11-2012, 20.00 PM
·         http://massofa.files.wordpress.com/2011/07/bab_1.pdf, diakses pada tanggal 28-11-2012, 20.00 PM
·         http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/files/2012/10/PERSOALAN-PERSOALAN-FILSAFAT.pdf, diakses pada tanggal 28-11-2012, 20.00 PM





[1] Tafsir, Ahmad, 2009, Pengantar Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, hlm. 9
[2] Ibid, hlm. 10
[3] Ibid
[4]Soyomukti, Nurani, 2011, Pengantar Filsafat Umum, Yogyakarta: Ar-Ruzmedia, hlm. 100
[5] Ibid, hlm. 99
[7] http://massofa.files.wordpress.com/2011/07/bab_1.pdf, diakses pada tanggal 28-11-2012, 20.00 PM

[8] Soyomukti, Nurani, 2011, Pengantar Filsafat Umum, Yogyakarta: Ar-Ruzmedia, hlm. 82, 86-89
[9] Soyomukti, Nurani, 2011, Pengantar Filsafat Umum, Yogyakarta: Ar-Ruzmedia, hlm. 103-109

1 komentar:

  1. makasih banyak, jadi referensi untuk tugas kuliah... saya cantumkan sama sumber blognya juga ko :)

    BalasHapus